Memakai media sosial memang lebih sering untuk hiburan. Tapi, kadang kala kita menemukan informasi yang berharga. Seperti saat aku sedang scrooling tiktok dan menemukan sebuah video TikTok yang menampilkan kegiatan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membuat lubang biopori.
Dalam video singkat yang bisa Anda lihat disini, tampak mereka membuat lubang kecil di tanah, mengisinya dengan sampah organik, lalu menutupnya kembali. Lalu, setelah beberapa waktu, membuka lubang kembali dan melihat isinya.
Aku penasaran: apa sih sebenarnya yang aku lihat tadi? Rasa ingin tahu itu membuatku pindah dari TikTok ke website resmi UNY. Ternyata benar, UNY sudah lama dikenal sebagai kampus hijau yang aktif menerapkan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan hidup.
Bahkan di situsnya, aku menemukan panduan praktis pembuatan biopori lengkap dengan gambar dan penjelasan manfaatnya. Dari situ aku tahu bahwa lubang biopori sangat berguna untuk membantu resapan air, mengurangi genangan, serta mengolah sampah organik menjadi kompos secara alami.
Namun yang paling menarik, ternyata kegiatan pelestarian lingkungan di UNY bukan hanya soal biopori. Ada banyak sekali aksi nyata yang dilakukan mahasiswa dan kampus. Mulai dari pengelolaan sampah terpilah, urban farming, pemanenan air hujan, hingga penerapan kawasan bebas kendaraan bermotor. Semua kegiatan itu tampak sederhana tapi berdampak besar.
Belajar dari Kampus Hijau Yang Peduli Lingkungan Hidup
Aku kagum, pendekatan UNY sangat praktis. Mereka tidak hanya mengajarkan teori, tapi langsung praktik di lapangan. Kegiatan seperti membuat eco-enzyme, kompos, menanam sayur dalam pot, dan membersihkan lingkungan dilakukan bersama-sama.
Semua hal tersebut memang wajar untuk dipelajari di bangku kuliah. Lebih luar biasa kalau orang lain dapat menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Memang pemanfaatan sosial media memungkinkan semua hal itu. Mengintip kegiatan perkuliahan, situasi kampus yang asri bahkan materi yang mahasiswa bagi untuk mengambil nilai. Kalau kita perhatikan, isinya bisa diterapkan di rumah masing-masing.
Rumahku ada halaman yang cukup luas dengan banyak daun mangga, belimbing dan pohon kenanga. Tentu hal seperti pemilahan sampah, buat biopori jadi perhatianku. Tapi setelah melihat posting lain dan sosial media UNY, ternyata ada banyak aktivitas, penghargaan, dan laporan berbentuk vlog terkait lingkungan hidup. Beberapa hal yang menarik perhatianku adalah :

1. Membuat Lubang Biopori
Terinspirasi dari video TikTok tadi, aku langsung mencoba membuat lubang biopori di halaman samping rumah. Alatnya sederhana, pakai bor tanah manual yang dibeli online. Lubangnya tidak terlalu dalam, lalu aku isi dengan sampah organik seperti sisa sayur, kulit buah, dan daun kering. Pengisian menyesuaikan saja, tambahkan sedikit demi sedikit. Ternyata tidak bau, dan tanah di sekitarnya jadi lebih gembur. Ini cara praktis banget untuk membantu resapan air dan mengurangi limbah dapur.
2. Memisahkan Sampah Organik dan Anorganik
Setelah membaca tentang program bank sampah di UNY, aku lebih paham cara memilah sampah di rumah. Kta sebaiknya menyiapkan dua wadah—satu untuk sampah organik seperti sisa makanan, yang nantinya akan masuk ke biopori atau komposter.
Wadah satu lagi untuk sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan botol. Selain rumah jadi lebih rapi, kita jadi lebih sadar apa saja yang aku buang setiap hari. Memang untuk praktiknya tidak semudah teori. Memilah sampah lebih repot, terutama karena di daerah aku memang tidak ada pengelolaan sampah.
Jadi, solusinya adalah mengolah sampah sendiri di rumah, sebisa mungkin. Intinya, kalau ada sampah yang akhirnya harus dibuang ke tempat sampah, aku coba untuk tidak terlalu merasa bersalah. Sampai ada sistem yang lebih baik, mungkin langkah yang bisa aku lakukan baru sampai situ.
3. Mengomposkan Limbah Dapur
Sampah dapur seperti ampas teh, kulit sayur, dan sisa buah tidak lagi langsung dibuang. Semua bisa dikumpulkan dalam ember tertutup untuk dijadikan kompos. Prosesnya butuh waktu beberapa minggu, tapi hasilnya bisa dipakai untuk menyuburkan tanaman di pot. Ini benar-benar mengubah cara melihat “sampah”—ternyata bisa jadi sumber daya!
Pembahasan di artikel memang lebih mengacu pada materi pelajaran. Tentang pengolahan tanah sehingga subur dengan materi yang ada di sekeliling kita. Misalnya dedaunan yang ada di kampus atau kebun. Selain itu, ada juga sosialisasi saat KKN yang mendekati ibu-ibu dan melakukan penyuluhan.

Pendekatan yang serius dan santai, membuat materi ini lebih mudah untuk dipahami. Terutama kalau langsung dilaksanakan, tentu akan lebih mudah. Kalau di rumah, bisa dari sampah dapur. Intinya, untuk menghasilkan tanah yang gembur, dari sampah organik pun bisa. Tinggal bagaimana cara kita mengolahnya.
4. Menanam Sayur di Pot Bekas
Salah satu hal yang aku suka dari kegiatan mahasiswa UNY adalah urban farming-nya. Aku jadi semangat menanam sayur sendiri di rumah, meskipun hanya di teras kecil. Pot bekas ember cat dan botol air mineral bisa dimanfaatkan sebagai wadah.
Untuk hal ini, ternyata aku tidak terlalu sukses. Sempat menanam daun jeruk, cabai, dan daun bawang. Rutinitas menyiram tanaman memang menyenangkan dan mudah. Tapi dengan berbagai alasan, aku terus-menerus lalai. Jadi, tanaman yang tumbuh tidak sebanyak yang aku inginkan.
Hal terpenting adalah sudah pernah mencobanya. Setelah menjalani untuk beberapa waktu, kalau bercocok tanam mungkin tidak cocok untuk aku yang termasuk malas dan kurang konsisten. Tapi pot daun bawang terus menerus tumbuh. Kalau melakukan sedikit riset, mungkin aku bisa memilih tanaman yang mudah tumbuh dengan minim pemeliharaan.
5. Kampus Hijau Yang Hemat Listrik dan Air
UNY menerapkan banyak langkah hemat energi sebagai bagian dari komitmen kampus hijau. Melihat langkah nyata itu, aku pun mulai tergerak untuk menyesuaikannya di rumah. Meski sederhana, kebiasaan kecil ini membuatku lebih sadar akan dampak lingkungan dari aktivitas harian.
Hal utama adalah membiasakan mematikan lampu dan peralatan listrik saat tidak digunakan. Dulu, aku sering lupa mematikan kipas angin. Tapi sekarang, aku lebih disiplin. Setiap selesai memasak atau bekerja, aku langsung memastikan semua peralatan dimatikan. Selain menghemat energi, ini juga membuat suasana rumah lebih tenang dan minim gangguan.
Untuk urusan air, aku belajar dari prinsip daur ulang sederhana. Air cucian beras dan sayuran kini aku gunakan untuk menyiram tanaman di pekarangan. Tanaman pun terlihat lebih segar karena mendapatkan nutrisi tambahan.
Selain itu, aku mulai rutin mengecek keran dan selang air. Bocor kecil yang sering dianggap sepele ternyata bisa memboroskan puluhan liter air dalam sehari. Sekarang, jika ada keran menetes, aku segera perbaiki. Aku bahkan menyimpan alat tambal sederhana agar bisa langsung bertindak..
Isu lingkungan hidup bukan hanya milik satu bidang ilmu saja. Di era perubahan iklim dan krisis ekologis global, seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan—memiliki tanggung jawab sama untuk menjaga bumi.
Tak hanya satu jurusan atau fakultas, gerakan pelestarian lingkungan diterapkan secara menyeluruh di hampir semua lini akademik dan kegiatan kampus. UNY benar-benar menjelma menjadi kampus hijau dalam arti yang sesungguhnya.
Kampus Hijau dan Penerapan Lintas Fakultas
Satu hal yang bisa dijadikan contoh adalah ketika melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di suatu daerah. Beberapa fakultas bisa bekerja sama dengan berbagai keahlian untuk memajukan desa tersebut.
Misalnya Program Studi Kimia membantu pengelolaan sampah organik. Program Studi Manajemen, akan memberikan pendampingan dalam manajemen pengelolaan bank sampah. Selain itu, bagian Kepelatihan akan mendampingi masyarakat dalam menciptakan lingkungan hidup yang sehat.
Kolaborasi seperti ini memperjelas bagaimana semua aspek kehidupan tidak bisa lepas dari lingkungan hidup yang sehat dan juga hijau. Tiap fakultas dapat mengambil andil dalam mempertimbangkan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Beberapa contoh penerapan di kampus UNY termasuk
FMIPA: Edukasi dan Praktik dari Dunia Biologi
Sebagai rumah bagi ilmu-ilmu dasar, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta mengambil peran strategis dalam mengarusutamakan pendidikan lingkungan. FMIPA menanamkan kesadaran ekologis yang mendalam kepada setiap mahasiswanya. Di sinilah keseriusan UNY untuk membangun masa depan lestari berakar kuat—pada sains, pada aksi nyata.
Salah satu jurusan yang paling menonjol dalam hal ini adalah Jurusan Biologi. Kurikulum yang diterapkan bukan hanya membahas teori-teori konservasi dalam kelas, tetapi juga menyatu dengan praktik langsung. Mahasiswa diajak mengenal berbagai jenis tumbuhan lokal bernilai ekologis penting, lalu mempelajari cara melestarikannya, baik melalui teknik budidaya, rehabilitasi lahan, maupun pendidikan masyarakat.
Program daur ulang limbah organik juga menjadi kegiatan rutin. Mahasiswa diajak mengolah sampah dapur menjadi kompos, mempelajari takaran karbon dan nitrogen untuk mendapatkan hasil terbaik, dan kemudian menggunakan kompos itu untuk kebun kampus atau proyek penghijauan lokal. Mereka bahkan belajar membuat eco-enzyme dan produk ramah lingkungan lainnya dari sisa rumah tangga.
Lebih dari itu, para mahasiswa Biologi tak sekadar berkutat di laboratorium dengan mikroskop dan tabung reaksi. Mereka turun langsung ke masyarakat—ke dusun-dusun, sekolah-sekolah, hingga komunitas urban—untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem lokal. Mereka menjelaskan bagaimana sampah plastik memengaruhi rantai makanan, bagaimana pestisida merusak biodiversitas, hingga mengajarkan cara membuat bank sampah dan kebun vertikal di lahan sempit.
Semua kegiatan ini tak hanya meningkatkan kapasitas akademik mahasiswa, tetapi juga membentuk karakter dan kepedulian sosial. Dengan pendekatan ini, FMIPA telah membuktikan bahwa sains bukanlah sesuatu yang kaku dan jauh dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, sains adalah alat perubahan, jembatan antara pengetahuan dan aksi, antara kampus dan dunia nyata.
Fakultas Teknik: Inovasi Ramah Lingkungan
Di Fakultas Teknik (FT), semangat menjaga lingkungan diterapkan melalui inovasi dan teknologi. Mahasiswa Teknik Sipil belajar merancang bangunan hemat energi, sistem drainase berkelanjutan, hingga teknik pemanenan air hujan.
Program seperti urban farming, penggunaan energi terbarukan, dan desain sistem pengelolaan sampah juga menjadi bagian dari proyek-proyek mahasiswa dan dosen. Mahasiswa bahkan mengerjakan Aplikasi Trash untuk melakukan pengelolaan Bank Sampah secara digital.

Selain itu, Mahasiswa lain mengembangkan Sayur Sleman yang merupakan aplikasi dan web untuk menyediakan kebutuhan sayur-mayur di daerah Sleman. Sentuhan teknologi selain memudahkan konsumen untuk mendapatkan bahan makanan berkualitas, juga membantu petani kecil dalam memasarkan produknya.
FIPP: Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan
Pelestarian lingkungan di UNY juga menyentuh aspek psikologis dan pendidikan karakter, khususnya lewat Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP). Program studi seperti Bimbingan dan Konseling serta Psikologi menanamkan nilai kepedulian terhadap alam sejak dini.

Mahasiswa belajar bagaimana mengintegrasikan kesadaran lingkungan ke dalam proses pembelajaran di sekolah dan kehidupan sosial. Misalnya pembuatan Resapan Air Hujan di lingkungan Kampus Hijau UNY. Kampus telah melakukannya dan memberikan berbagai manfaat bagi mahasiswa dan keluarga lainnya.
Hal ini juga dilakukan saat KKN untuk mengembangkan kesadaran pentingnya membuat SPAH (Sistem Peresapan Air Hujan) dilingkungan sekitar. Kita bisa menghindari banjir dan menjaga lingkungan, khususnya saat musim hujan.
FISHIPOL: Kajian Sosial dan Advokasi Lingkungan
Sementara itu, di Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dan Ilmu Politik (FISHIPOL), isu lingkungan adalah sesuatu yang penting. Bukan persoalan teknis atau ekologis semata, tetapi struktural dan sosial. Pendekatan holistik, menggabungkan aspek sosial, politik, budaya, dan hukum sebagai kunci memahami serta mengatasi krisis lingkungan yang makin kompleks.
Mahasiswa dari berbagai jurusan, terutama Geografi dan Sosiologi, secara aktif membedah persoalan lingkungan dari perspektif keadilan dan tata kelola. Mereka membahas keadilan lingkungan berkaitan dengan akses terhadap sumber daya alam, dengan siapa yang paling terdampak oleh degradasi lingkungan dan siapa yang memiliki kekuasaan untuk mengubahnya.
Topik seperti dampak sosial perubahan iklim, penggusuran akibat proyek pembangunan, hingga hak masyarakat adat atas tanah mereka menjadi bagian penting dalam diskusi dan penelitian mereka.
Mahasiswa Geografi, misalnya, banyak terlibat dalam riset pemetaan wilayah rawan bencana, seperti banjir, longsor, dan kekeringan. Dengan menggunakan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG), mereka membuat peta-peta tematik yang tidak hanya bersifat akademis.
Alat yang sama juga dapat digunakan sebagai dasar perencanaan mitigasi oleh pemerintah daerah. Beberapa proyek bahkan melibatkan kerja sama lintas fakultas dan mitra eksternal, seperti BNPB atau organisasi lingkungan lokal.
Sementara itu, mahasiswa Sosiologi lebih fokus pada edukasi masyarakat, membangun kesadaran kolektif, dan mendorong partisipasi publik dalam menjaga lingkungan. Mereka melakukan pendampingan didesa yang terdampak kerusakan lingkungan, menggelar diskusi warga, dan menyelenggarakan lokakarya tentang pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Mereka menyadari bahwa tanpa keterlibatan masyarakat akar rumput, kebijakan lingkungan akan cenderung elitis dan tidak efektif. Selain itu, mahasiswa Ilmu Politik dan Hukum juga mempelajari bagaimana kebijakan publik dan perangkat hukum dapat menjadi instrumen yang efektif dalam pembangunan berkelanjutan.
Mereka menganalisis berbagai regulasi lingkungan, menyoroti kelemahannya, serta merancang rekomendasi kebijakan lebih inklusif dan berpihak pada keberlanjutan. Dalam seminar dan simulasi sidang, mereka membahas isu-isu seperti hukum lingkungan internasional, perlindungan kawasan konservasi, hingga advokasi atas nama lingkungan hidup.
Melalui pendekatan multidisipliner ini, FISHIPOL berperan penting dalam memperluas makna “ramah lingkungan”—bahwa menjaga bumi bukan hanya urusan teknis atau akademis, tetapi juga perjuangan sosial yang melibatkan kebijakan, keadilan, dan kesetaraan.
FIKK: Gaya Hidup Sehat dan Ramah Lingkungan
Apakah FIKK bisa turut serta menerapkan kepedulian pada lingkungan hidup? Tentu bisa. Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) menerapkan pelestarian lingkungan lewat gaya hidup. Kampanye jalan kaki, bersepeda, serta penggunaan tumbler dan botol isi ulang sudah menjadi kebiasaan di kalangan mahasiswa.

FIKK juga aktif dalam kegiatan bersih-bersih kampus, pelatihan hidup sehat berbasis alam, hingga pemanfaatan ruang hijau untuk olahraga. Hal ini dilakukan secara rutin di Kampus Hijau untuk memberikan dampak yang berkelanjutan dan tahan lama.
Dari Mahasiswa untuk Bumi
Semangat kampus hijau ini tidak hanya berasal dari dosen atau kebijakan fakultas, tapi juga dari inisiatif mahasiswa. Banyak komunitas dan organisasi mahasiswa lintas jurusan yang bergerak dalam isu lingkungan, seperti bank sampah kampus, kampanye hemat energi, pembuatan kompos dan biopori, hingga pelatihan pertanian perkotaan (urban farming).
Mahasiswa UNY menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan adalah bagian dari gaya hidup sehari-hari, bukan sekadar proyek akademik. Aku hanya bisa berbagi beberapa kegiatan yang menarik yang bisa aku terapkan di rumah sendiri. Masih banyak sepak terjal kampus UNY dan mahasiswanya dalam menggalakkan pelestarian lingkungan hidup. Mulai dari pengelolaan sampah, pemanfaatannya serta pengetahuan bagaimana kita bisa menghasilkan sedikit sampah bahkan sampai zero waste.
Pelestarian lingkungan di UNY adalah contoh nyata bagaimana pendidikan bisa bersinergi dengan keberlanjutan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai ramah lingkungan di semua fakultas, UNY tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga peduli dan bertanggung jawab terhadap masa depan planet ini. Sebuah langkah inspiratif yang patut dicontoh kampus-kampus lainnya di Indonesia.
Dies Natalis Kampus Hijau UNY ke 61
Dengan misi untuk menjadi universitas kependidikan kelas dunia yang unggul, kreatif, dan inovatif berkelanjutan, UNY memiliki fokus besar terhadap masalah lingkungan hidup. Hal ini diterapkan di kampus, lingkungan sekitar bahkan sampai materi pembelajaran.
Tahun 2025 ini, UNY merayakan ulang tahunnya yang ke 61. Usia yang sudah matang dan berpengalaman dalam menggeluti bidang pendidikan. Fokus UNY di acara Dies Natalis 61 adalah memberikan perhatian lebih pada pengembangan teknologi pada berbagai bidang.

Acara Dies Natalis 61 – penyerahan Sepeda Listrik
UNY menyerahkan 100 lebih kreasi salah satu mahasiswanya yang berhasil menciptakan sepeda listrik untuk digunakan sekitar kampus. Hal ini menggabungkan teknologi dengan Green Campus. Penghargan dan apresiasi diberikan bagi mahasiswa maupun dosen yang berinovasi untuk menciptakan lingkungan hidup yang lebih sehat dan hijau.
Di tengah hiruk-pikuk kota Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berdiri tegak sebagai contoh nyata dari kampus yang tidak hanya mengedepankan prestasi akademik, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Komitmen tersebut bukan sekadar slogan, melainkan aksi nyata. Hal ini tercermin dalam berbagai program dan penghargaan bergengsi.
Momentum Dies Natalis ke-61 Universitas Negeri Yogyakarta bukan hanya menjadi perayaan usia dan capaian akademik, tetapi juga penegasan kembali dedikasi kampus pada keberlanjutan lingkungan. Dengan tema yang menggugah kesadaran ekologi dan inovasi hijau, peringatan tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan bertema ramah lingkungan.
Seminar energi terbarukan, lomba inovasi hijau mahasiswa, hingga penanaman pohon serentak di tujuh fakultas adalah beberapa perayaan yang dilakukan pada saat berbahagia tersebut. UNY ingin menegaskan bahwa usia boleh bertambah, namun semangat menjadi kampus yang berpihak pada bumi harus terus menyala. Di tengah krisis iklim global, langkah kecil UNY bisa menjadi contoh besar bagi perguruan tinggi lain di Indonesia: bahwa menjadi kampus hijau bukan hanya tren, tapi keniscayaan.
sumber
